Perjalanan keliling dunia yang dilakukan oleh bangsa Eropa yang pada akhirnya berkembang menjadi kolonoialisme dan imperialisme awalnya adalah untuk mencari rempah-rempah..

Di mana letaknya? Tidak lain adalah di Jazirah Al Mulk yang sekarang menjadi Provinsi Maluku Utara dan Maluku.. Sejak pra kolonialisme daya tarik nusantara bukan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi ataupun Papua melainkan di Jazirah Al Mulk.. 

Dengan kekayaan alam hayati yang melimpah ruah bahkan kekayaan mineralnya pun sangat besar.

Lalu mengapa masyarakat dan pemerintahnya saat ini justru terpuruk?

Menurut penulis, itu terjadi karena krisis identitas dan karakter..

Seluruh elemen di Maluku Utara cenderung ingin meniru majunya pembangunan di wilayah lain seperti di Jawa atau Jakarta.. padahal perlu diingat bahwa karakteristik setiap daerah itu berbeda..Maluku Utara memiliki kekayaan ikan, pala, cengkih, kenari, alam yang indah, seharusnya itu yang menjadi fokus utama..

Sayangnya karakter individualis ingin untung sendiri dan ketamakan, menjadikan para kepala daerah gelap mata dan memilih merusak alam dengan konsesi tambang..

Padahal keindahan alam di Maluku Utara sangat potensial untuk dikelola melebihi Bali..

Ingin bukti? Jikomalamo yang diperuntukkan sebagai pelabuhan saja dianggap sangat layak oleh masyarakat daerah lain sebagai tempat wisata…

Kalau sudah seperti ini apakah tidak sebaiknya Maluku Utara mulai berbenah melakukan konsolidasi ulang untuk menentukan arah baru..
Tapi lagi-lagi proses politik apakah mampu menghasilkan pemimpin yang tidak tamak??