​Akhir-akhir ini di Maluku Utara beredar kabar rencana Habib Rizieq ke Bumi Kie Raha yang tentunya pasti membawa misi membentuk FPI di sini. Tak pelak kabar tersebut menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat Maluku Utara khususnya Kota Ternate yang memang sangat dinamis.

Lalu bagaimana kita menyikapi persoalan ini?
Tidak perlu panas, kita musti berpikiran dengan kepala dingin. Sebelum memutuskan mendukung atau menolak, terlebih dahulu kita harus melihat sepak terjang FPI selama ini. Ya, FPI adalah ormas yang senang mengedepankan kekerasan dalam tindakannya dan tidak segan-segan berbuat anarkhis terhadap hal-hal yang dinilai tidak sejalan dengan pandangan mereka meskipun hal tersebut dilegalkan pemerintah. FPI selalu mengemas tindakannya dalam balutan ajaran  Islam yakni amar ma’ruf nahi munkar.

Seperti tulisan sebelumnya, kekerasan melahirkan kebencian, demikian pula resistensi terhadap FPI sudah mulai terjadi di beberapa wilayah seperti Palangkaraya, Balikpapan, Pontianak, Tulungagung, Kendal, Kupang dan sebagainya..
Sebagai pertimbangan, sebuah organisasi apabila sudah berada di suatu daerah akan sulit untuk dibubarkan. 

FPI dengan karakteristiknya selalu memicu terjadinya benturan di masyarakat.  Hal ini dapat dipahami karena sikap intoleran akan memicu reaksi intoleran pula. Maka dari itu, FPI sangat tidak tepat jika diterima di Maluku Utara, selain karakter masyarakat mudah reaktif, karakter FPI akan kontraproduktif dengan upaya pemulihan pasca konflik horizontal yang hingga saat ini belum pulih secara tuntas..
Jadi..FPI di Maluku Utara? Hmmm sebaiknya jangan..