​Rupanya bukan hanya pelabuhan Galela saja yang operasionalnya belum berjalan, di Ternate, pelabuhan Semut di Kelurahan Mangga Dua juga terancam tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya. 

Pembangunan pelabuhan Semut Mangga Dua Ternate menggunakan anggaran APBN sebesar Rp 30 miliar selama 3 tahap yakni 2012, 2013, dan 2014,  bertujuan  memusatkan opersional kapal angkutan jarak dekat di bawah 7 GT (speed boat) di Kota Ternate dengan kapasitas 600 unit armada. Rencananya pelabuhan semut akan mengintegrasikan rute Sofifi (Kota Baru), Tidore (Bastiong), Sidangoli (Gamalama), Makian Kayoa (Bastiong), dan VIP (Resident Falajawa). Namun ketika akan dilakukan uji coba pemindahan rute Tidore dan Sofifi mendapat penolakan dari para motoris speedboat dan buruh baik di Pelabuhan Kota Baru maupun Bastiong.

Jelas ini merupakan PR bersama bagi KSOP dan Pemkot Ternate. Mengapa Pemkot Ternate? Karena Pemkotlah yang mengusulkan pembangunan pelabuhan semut tersebut. Sekarang ketika Pelabuhan sudah selesai dibangun sudah sewajarnya Pemkot melanjutkan rencana tujuan pembangunan pelabuhan semut teraebut.

Di sisi lain, tampak Pelindo sebagai pengelola pelabuhan speed sementara Bastiong sedikit keberatan melepaskan armada speed karena ada pemasukan karcis di dalamnya. Salah satunya adalah dengan upaya memperbaiki dermaga yang saat ini digunakan speedboat. Tentu hal ini akan semakin mempersulit pemindahan armada karena mereka merasa difasilitasi.

Lain lagi di Kota Baru, kepentingan politis mengakibatkan anggota dewan memberikan statemen yang bukannya menenangkan tetapi malah cenderung provokatif.

Jika sudah begini, fungsi pelabuhan semut mangga dua apakah bisa dimaksimalkan atau tidak, tergantung sikap masyarakat Ternate sendiri…dan time will tell..