Maluku Utara mekar menjadi Provinsi baru sejak  4 Oktober 1999, berarti usia sudah menjelang 18 tahun. Di antara provinsi yang mekar, Malut merupakan yang pertama kali sehingga menjadi anak sulung dari reformasi. Lazimnya yang pertama, merupakan hasil uji coba sehingga sudah sewajarnya jika pemekaran Maluku Utara masih menyisakan berbagai persoalan, mulai tapal batas, aset, hingga masalah ibu kota…
Tapi sampai kapan mau bergulat dengan persoalan yang menyandera pembangunan tersebut?? Sebagai anak sulung seharusnya siap dengan konsekuensi termasuk tuntutan kemandirian dan kreatifitas…

Sejak pemekaran hingga saat ini, apa yang sudah dicapai Maluku Utara…para Gubernur sudah silih berganti, para Bupati juga demikian, tetapi pembangunan berjalan sangat lamban. Praktis setelah pemekaran hanya Ternate yang bisa disandingkan dengan daerah lain, itupun hanya di Ternate Utara Tengah dan Selatan.. selebihnya hanya terlihat  infrastruktur yang seadanya…

Apa sebenarnya yang kurang di Malut? Kalo saya lihat adalah krisis MANAJERIAL.. Bagaimana mengatur anggaran yang minim, memprioritaskan program, mencari terobosan untuk peningkatan PAD…selama ini belum ada yang bisa melakukan itu..Parahnya lagi, calon-calon kuat yang ada justru memiliki kelemahan track recordnya di bidang manajerial…

Mirisnya, Parpol yang diharapkan melakukan seleksi serius dengan maksud menghadirkan calon yang berkualitas, justru mengedepankan kepentingan, di sisi lain masyarakat belum sepenuhnya sadar akan pentingnya menyeleksi calon.. kalaupun sadar, pilihannya pun terbatas sehingga tidak bisa berbuat apa-apa.. 
Calon sekelas Ridwan Kamil, Bu Risma, dan Jokowi mungkin masih sekedar mimpi…