Sengaja saya angkat tulisan ini sekedar untuk ikut komen dengan polemik dan prahara antara Ketum PSSI dengan pemain berbakat Evan Dimas dan Ilham Udin…

Konon diberitakan bahwa Ketum PSSI (saya ga berani sebut nama) mengeluarkan fatwa “tidak nasionalis” kepada Evan-Ilham karena menandatangani kontrak dengan Selangor FA.. what?!!!
https://www.bolasport.com/read/ole/liga-1/228189-evan-dimas-dibilang-tidak-nasionalis-oleh-ketum-pssi-karena-bermain-di-liga-malaysia-media-asing-beritakan-ini
Kadang saya berpikir kira-kira bapak ini pernah main bola ga ya? Minimal nonton pertandingan kompetisinya lah.. bagaimana pengelolaah liga yang subhanallah maha amburadul.. bahkan penentuan juara saja harus memakai strategi non sepakbola.. plis deh..

Yup.. terlepas dari apa yang mendorong Ketum PSSI berkata demikian…patut disayangkan apabila penilaian cinta tanah air hanya dinilai dari lokalisasi.. Mungkin dari sisi profesi sebelumnya Bapak Ketum sangat berjasa bagi bangsa dan negara, namun kalo dari sisi sepakbola jasa dan cinta tanah airnya masih kalah jauh dari Evan-Ilham…

CR 7, LM 10 semua pemain hebat, profesional, punya gaji besar, tidak korupsi… dan yang paling penting faktanya mereka bukan KATAK DALAM TEMPURUNG….
Pernyataan bapak Ketum ini juga sangat-sangat rawan mirip yang terjadi dahulu kala…seperti..
“Tidak pro revolusi berarti nekolim” (orla)

“Menentang pemerintah berarti PKI” (orba)

“Menentang LGBT berarti Teroris” (reformasi)

“Main di luar negeri berarti tidak nasionalis” (mirip kan?)
Kata-kata menunjukkan kualitas seseorang dalam memahami situasi.. sungguh disayangkan apabila doktrin militer dibawa mentah-mentah secara tekstual ke ranah profesi non militer.. Menurut saya justru yang tidak nasionalis itu yang sengaja Korup di dalam negeri… Walaupun mereka tetap di Indonesia, namun sama sekali tidak ada kontribusi,  yang ada malah menjadi parasit dan musuh dalam selimut…
Bravo Sepakbola Indonesia… eh maksud saya Maju Sepakbola Indonesia.. Gara-gara “bravo” nanti saya dituduh tidak nasionalis.. takut ah ngeriiii