Islam datang dari keterasingan dan akan kembali terasing..

Berapa banyak orang Islam di muka bumi saat ini, sangat banyak, namun jelas faktanya mereka tak lebih hanya sekedar buih di lautan, terombang-ambing, terpecah-belah, diperebutkan seperti makanan empuk alias ramonan. Apakah saat ini ada negara yang dipimpin oleh seorang muslim yang kuat agamanya??? 

Bagaimana dengan Indonesia, setali tiga uang, keadaannya tidak jauh berbeda. Sejak era kemerdekaan bahkan ketika penjajahan selalu digemborkan bahwa muslim itu komunitas (baca:identitas) terbesar di Indonesia, namun yang terjadi suara umat Islam tidak satu, bahkan pemikiran dan ideologinya banyak yang menyeberang ke ideologi lainnya seperti nasionalisme maupun komunisme-sosialisme. Ini karena berkembangnya paham sekuler pada generasi bangs Indonesia akibat penjajahan dan pendidikan hasil kolonialisme. Pada akhirnya pemikiran umat Islam di Indonesia cenderung sekuler dan menganggap bahwa Islam hanya sebuah ritual ketuhanan yang ranahnya pribadi saja.

Alhasil dalam setiap Pemilu, partai yang berdasar atau berwarna Islam tidak pernah menjadi pemenang yang secara langsung artinya tidak mampu menjawab tantangan Soekarno ketika pidato pada 1 Juni 1945.
“Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar-supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan Rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini.”

Pembentukan buih di lautan itu adalah sebuah proses yang bernama kolonialisme, maka dari itu penyatuan buih di lautan itu juga perlu dengan proses pula. Seharusnya para ulama yang terlebih dahulu bersatu menyamakan pandangan pentingnya persatuan umat, bukan menonjolkan arogansi harokah yang justru lebih mempopulerkan perbedaan, padahal masih satu aqidah. Itulah juga mengapa umat Islam di Indonesia yang katanya mayoritas ini jadi terlihat minoritas dari sisi power politik maupun ekonomi. Contoh nyata, masalah LGBT saja di Indonesia belum dapat dilarang, itu adalah masalah kecil yang seharusnya sangat mudah di-gol-kan kalo memang Islam-nya anggota DPR dan Pemerintah bukan hanya di KTP.
Mungkin jika revisi agama di KTP yang boleh mencantumkan aliran kepercayaan sudah diterapkan keseluruhan, jumlah umat Islam di Indonesia akan turun drastis karena mayoritas masuk aliran kepercayaan… mungkin lho ya.. Kenapa demikian, yang namanya orang Islam, tentu syariat Islam adalah yang utama, apapun nama hukumnya, syariat Islam adalah sebuah kewajiban yang harus digunakan dalam memutus dan memvonis segala perkara. Akan sangat aneh jika seorang muslim menentang hukum yang diimani datang dari Tuhannya sendiri. Jika itu terjadi bukannya hal tersebut sama dengan menantang Tuhan?
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa- idah: 3].