Pertama-tama perlu ditegaskan, tulisan ini bukan ubtuk menakuti, membuat kegaduhan, atau bahkan membuat keresahan, namun lebih kepada ajakan untuk introspeksi diri.

Kurang lebih 10 bulan Covid-19 muncul, hingga saat ini terus mewabah dan masih belum ada tanda-tanda berakhir. Bukan ahli biologi, bukan pula ahli kesehatan, apalagi ahli mikrobakteriologi (kalo ada), tetapi tidak ada salahnya kita belajar mengkaji pandemi covid-19 dengan nalar dan akal sehat, setidaknya kita bisa menyusun langkah-langkah untuk survive.

Dalam strategi perang, ada banyak kata bijak dan adagium yang dipakai untuk bisa memenangkan pertempuran (anggap saja covid-19 sebagai lawan perang) ada istilah Cumemu (Cuaca Medan Musuh) ada juga pesan dari Sun Tzu: “Kenali dirimu, kenali musuhmu, dan kenali medan tempurmu. Seribu peperangan, seribu kemenangan”. 

Pada tulisan bagian 1 ini, mari kita coba untuk memahami karakteristik Covid-19 berdasarkan fakta-fakta yang terlihat di lapangan.

Menghadapi musuh (baca: virus covid-19) maka yang perlu kita pahami yang pertama adalah siapa musuh kita,  ya musuh kita adalah Covid-19 dengan segala deskripsi dan definisi yang sudah dijabarkan ahlinya. Tetapi bukan itu yang kita cari, kita perlu fakta sepak terjangnya di dunia nyata. Berdasarkan referensi berita (ya kita orang awam sumbernya berita) ada beberapa karakter musuh yang bisa kita rangkum:

1. Menyerang sistem pernafasan dengan gejala paling parah adalah sesak nafas, meninggal karena sesak atau kurangnya kadar oksigen dalam darah (hipoksia).

2. Meningkatkan intensitas dan dampak klinis bagi orang-orang yang memiliki penyakit bawaan, mulai dari jantung, diabetes, ginjal, paru, pencernaan dsb. (Sebagai orang awam kita asumsikan semua jenis sakit menjadi gampang kambuh dan parah ketika terpapar covid).

3. Bisa bertahan cukup lama di udara bebas (lebih dari 1 jam/anggap saja 3 jam).

4. Terpapar belum tentu serta merta positif, karena banyak kasus berinteraksi langsung dengan orang positif covid 19, namun tidak menjadi postif ketika di-swab (kasus keluarga Pak Walikota Bogor salah satunya).

5. Negatif PCR/swab belum tentu bebas virus, bisa jadi sampel swab yang diambil tidak mengandung RNA virus baik karena jumlahnya yang masih kecil, atau memang belum berkumpul di tempat pengambilan sampel.

6. Ukuran Covid-19 diperkirakan sekitar 0.125 mikrometer, sama atau bahkan lebih kecil dari partikel yang ada di kabut asap yang mungkin antara 0.1-10 mikrometer.

Analisis

Dari fakta-fakta di atas, kita bisa mengklasifikasikan kemampuan musuh (baca:Covid-19) menjadi beberapa hal:

1. Cara membunuh target
Dalam membunuh target, musuh memiliki 2 cara yaitu pertama melalui pemutusan suplay oksigen, kedua melalui penyakit bawaan. Orang dengan penyakit bawaan akan lebih rentan kambuh penyaktnya dengan lebih parah. Sementara untuk kasus kekurangan oksigen, yang berbahaya adalah ketika tidak timbul gejala sesak nafas, namun kadar oksigen dalam darah turun, karena sulit terdeteksi, seperti kasus orang keracunan asap mobil (gas CO).

2. Cara menginfeksi target
Cara menginfeksi, musuh memiliki 2 kemampuan, terang-terangan yakni antara orang yang sakit kepada orang sehat dan antara orang yang terlihat sehat kepada orang yang sehat. Kemampuan infeksi yang kedua lah yang paling berbahaya karena tidak terdeteksi.

3. Kemampuan penyebaran
Kemampuan penyebaran, karena ukurannya yang kecil (seukuran kabut asap) dan kemampuan bertahan yang cukup lama di udara bebas (diatas 1 jam, asumsi 3 jam), dengan asumsi kecepatan maksimum 30 km/jam (penyebaran kabut asap) maka radius maksimum jangkauan virus dari sumber adalah 90 km. Asumsi paling mudah adalah ketika kita membakar sampah, sejauhmana asap itu bergerak selama 3 jam, sejauh itulah kemungkinan virus itu menyebar.

Bersambung..